Profil dan Sejarah PON PES Darul Arifin
A. Pendiri sekaligus pengasuh pertama
PP “ Darul Arifin” didirikan pada tahun 2003 oleh KH. Abdullah Syamsul Arifin, putra bungsu dari mendiang al-Marhum Romo KH. Syamsul Arifin dengan NY Hj. Muti’ah -Pendiri dan pengasuh pertama Yayasan Bustanul Ulum ( Pondok Induk). Beliau salah satu dari enam bersaudara yang berjuang dengan mendirikan Pondok Pesantren dan memberikan da’wah pada masyarakat lewat pengajian – pengajian baik di dalam ataupun luar kota bahkan keluar negri.
Ditengah aktifitasnya yang menumpuk –kerena beliau berprofesi sebagai dosen tetap STAIN Jember dan menjabat sebagai katib suriyah PCNU Jember, ditambah lagi undangan ceramah yang sangat padat- beliau masih sempat meluangkan waktuya untuk membacakan kitab di depan para santri setelah jama’ah maghrib dan subuh. Kesibukan – kesibukan beliau tidak menghambat aktifitasnya untuk menjaga dan mengurusi santri. Hingga saat beliau datang tengah malampun dari pengajian, beliau masih bersedia menjadi imam shalat subuh, dan ngaji kitab di depan santri sampai jam setengah enam. Kemudian langsung istirahat kerana biasanya beliau datang dari pengajian kira – kira jam satu sampai jam dua. Sehingga untuk memulihkan tenaga beliau harus istirahat sampai jam setengah delapan.
B. Gedung dan sarana pendukung
"PP Darul Arifin" didirikan di atas tanah wakaf seluas 6700 M³. Berjalan penuh dengan kesederhanaan, itulah awal PPDA (singkatan dari PP Darul Arifin) berperan sebagai lembaga pendidikan pesantren, dimana asrama, musollah, dalem pengasuh dan ruang tamu hanya terdiri dari satu gedung yang memiliki tiga ruangan, ruangan pertama (paling barat) di sekat menjadi dua kamar satu ruang untuk musollah dan tempat ngaji kitab sedang ruang separuhnya untuk asrama santri putra, ruangan kedua ( Ruang tengah) dijadikan dalem pengasuh dan ruang ke-tiga juga disekat menjadi dua ruang, satu ruang sebagai ruang tamu dan separuhnya lagi untuk asrama santri putri. “Jauh dari kata layak”, mungkin tidak terlalu berlebihan kata ini disandang PPDA waktu itu, karena satu gedung dengan panjang 30 M dan lebar 8 M harus harus dijadikan delem, asrama santri putra-putri dan musollah. Namun dengan kesabaran extra KH Abdullah SA dan Ny HJ. Umi Mas’udah terus berupaya mengembangkan pesantren hingga pada tahun 2004 PPDA sudah mampu membangun asrama untuk santri putra dan putri, awalnya dua kamar untuk santri putra dan dua kamar untuk santri putri ditambah satu ruang lagi musollah putri. Di tahun yang sama pengasuh menambah bangunan baru dengan kualitas sangat sederhana dengan dinding terbuat dari bambu yang di anyam.
Nama PPDA semakin hari semakin dikenal masyarakat luas sehingga banyak orang tua ingin memondokkan anaknya, pada tahun 2006 PPDA merenovasi asrama santri putra menjadi 7 kamar untuk santri dan tiga kamar untuk guru bantu dan santri senior yang menjadi Khaddam (pembantu delem) ditambah dengan dua kamar mandi. Gedung yang semula dijadikan asrama, dalem dan musollah kini dijadikan ruang kelas. pada tahun 2007 PPDA menambah satu gedung lagi yang difungsikan sebagai musollah sekaligus AULA. Pelan tapi pasti itulah PPDA.
Awal tahun 2012 renovasi dilakukan kembali untuk memperbaiki gedung santri putra, yang awalnya masih beralaskan semen diganti kramik dan atap terbuat dari anyaman bambu diganti dengan internit. Ditahun yang sama juga dilakukan renovasi ruang belajar sekaligus menambah jumlah gedung yang awalnya hanya terdiri dari tiga local menjadi enam local dengan kualitas yang cukup lumayan.
C. Pendidikan dan organisasi
Pada awal perjalanannya PP “ darul Arifin” mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat, karena PPDA mengembangkan Pendidikan Bahasa Asing meliputi Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pendidikan bahsa arab dibimbing langsung oleh KH. Abdullah SA. Karena Background beliau yang merupakan alumni SI STAIN Jember jurusan bahasa arab, sehingga beliau sangat professional dalam pengajaran bahasa arab. Sedangkan Pendidikan Bahasa Inggris dibimbing oleh Ny. Hj. Umi Mas’udah (Istri KH. Abdullah SA.) beliau sangat berkompeten dalam bidang bahasa inggris kerena latar belakang kehidupan beliau yang berasal dari kampung inggris Pare Kediri, sehingga kompetensinya dalam bidang Bahasa inggris tidak diragukan lagi.
Pada tahun selanjutnya, mengingat perkembangan santri yang terus mengalami peningkatan secara kuantitas, PPDA memerlukan guru bantu yang menangani bahasa arab dan bahasa inggris, sehingga pilihan satu-satunya tertuju pada Pondok Modern “Baitul Arqom” yang beralamat di Kecamatan Balung Kabupaten Jember. Periode pertama Guru bantu berjumlah tiga orang yaitu Ust Nuga, Ust Yuda dan Ust Fandi kemudian pada periode selanjutnya guru bantu hanya berjumlah dua orang yaitu Pertama Ust Pemilu syafruddin syah dan kedua Ust. Ahmad Faqih. Pengambilan guru bantu hanya berlangsung dua periode karena pada tahun ke-empat PPDA sudah mampu melahirkan santri yang memiliki kompetensi dalam bidang kebahasaan, baik bahasa arab ataupun bahasa inggris, sehingga pengembangan bahasa arab dan bahasa inggris diserahkan sepenuhnya pada santri senior yang berkompeten dibidangnya.
Seiring dengan tumbuhnya gedung – gedung baru, PPDA Mulai melakukan inovasi terhadap model pendidikannya, dan mulai mengajarkan cara berorganisasi. Kalau ditahun – tahun sebelumnya PPDA hanya fokus pada pengembangan bahasa, tapi pada tahun ajaran 2007/2008 pengasuh putar haluan pada pengkajian kitab klasik ( kitab kuning),dan mulai mengenalkan musyawarah dalam bingkai bahtsul masa’il. namun tidak meninggalkan pengembangan bahasa yang sudah menjadi ciri khas pondok selatan (PPDA)-karena dibawah yayasan BUSTANUL ULUM ada tiga pondok yaitu pondok timur (PPBU) Pondok Barat (PP Bustanul Arifin al-Ansori) dan pondok selatan (PPDA)-
Jumlah santri putra yang mencapai 30 orang dan santri putri 9 orang, tidak mungkin di didik oleh pengasuh seorang diri, akhirnya pada tahun itu PPDA kembali mengambil guru bantu tapi dari instansi yang berbeda. Pada tahun 2007 guru bantu didatangkan dari PP Assunniyyah Kencong Jember dengan jumlah satu orang yaitu Ust. Ar-Rifa’I dari guru tugas pertama inilah, bahtsul masa’il mulai diperkenalkan. Antusiasme (semangat) santri sangat besar sekali, di tahun pertama BM (Bahtsul Masa’il) walaupun sangat sederhana, ibarot seadanya BM bisa berjalan dengan baik, ditahun ini pula musyawarah menjadi hal baru yang sangat diminati oleh para santri. Para santri mulai berlomba – lomba belajar memahami kitab kuning dengan bekal seadaanya.
Pada tahun berikutnya, guru baru dari instansi yang sama menilai ada sesuatu yang kurang, disamping musyawarah dan BM yang sudah ada, santri membutuhkan sesuatu yang kelak bisa bermanfaat di masyarakat. akhirnya di tahun ini (2008) kegiatan ditambah satu lagi yaitu praktik, meliputi Ubudiyah dan Munakahat. Kegiatan ini dilaksanakan ba’da jamaah subuh pada hari selasa. Sedangkan pada hari jum’at diisi dengan istighatsah, yasinan dan baca nadzam bersama.
Himmah yang begitu besar disertai kerja keras untuk terus meningkatkan kualitas ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Pada tahun 2008 PPDA mendapat juara umum Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) sekabupaten jember, dengan perolehan 9 trofi yang diwakili oleh :
1. Rudiadi juara 1 lomba baca kitab jurmiyah (Thabaqah Ula) 2008
2. Ahmad Efendi juara 3 baca kitab Tafsir Jalalain (Thabaqah Ula) 2008
3. Abdul Ghani juara 2 hifdul mutun hadits Riyadussolihin ( thabaqah wustha) 2008
4. Ahmad Musyaffa’ juara 3 baca kitab al-Fiyah (thabaqah ulya) 2008
5. Abdullah Dardum juara 2 baca kitab tafsir ibnu Katsit (thabaqah ulya) 2008
6. juara 2 cerdas – cermat 2008
Melewati seleksi yang sangat ketat di tingkat kabupaten akhirnya dua orang bisa berkompetisi pada MQK tingkat profinsi yaitu
1. Rudi adi lomba jurmiyah tingkat ula 2008
2. Abdul Ghani laomba baca kitab fathul Qarib tingkat Wustha 2008
Sehingga hanya tersisa satu kandidat yang lolos ke tingkat Nasional Yaitu saudara Rudi Adi, dan ditingkat ini saudra Rudi Adi membuahkan hasil maksimal dengan mendapat juara III.
PP “ Darul Arifin” didirikan pada tahun 2003 oleh KH. Abdullah Syamsul Arifin, putra bungsu dari mendiang al-Marhum Romo KH. Syamsul Arifin dengan NY Hj. Muti’ah -Pendiri dan pengasuh pertama Yayasan Bustanul Ulum ( Pondok Induk). Beliau salah satu dari enam bersaudara yang berjuang dengan mendirikan Pondok Pesantren dan memberikan da’wah pada masyarakat lewat pengajian – pengajian baik di dalam ataupun luar kota bahkan keluar negri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar